BIOGRAFI GUBERNUR RIAU KE-8 : H. M. RUSLI ZAINAL (2003-2013)
H.M. Rusli Zainal, S.E., M.P. yang lahir 3 Desember 1957 di Kecamatan Mandau Kabupaten Indragiri Hilir adalah politikus Indonesia. Ia merupakan Gubernur Riau dua Periode yakni 2003-2008 dan 2008-20013, sebelumnya Rusli Zainal pernah menjabat sebagai Bupati Indragiri Hilir 1999-2003. Mengawali kiprahnya ketika ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Riau dengan menyandang profesi sebagai guru di sejumlah masjid di Pekanbaru. Menekuni sebagai guru mengaji sampai meraih gelar sarjana ekonomi.
Sebelum menamatkan kuliahnya, Rusli Zainal telah menjabat sebagai Wakil Sekretaris KNPI Riau. Tujuh tahun setelah menamatkan kuliahnya, Rusli Zainal terpilih sebagai Ketua Umum Gapensi Riau. Selama menjabat sebagai bupati pada tahun 1999 hingga 2003 Rusli Zainal dikenal sebagai motor penggerak kawasan Riau Selatan. Rusli Zainal termasuk orang yang gigih dan tak mudah menyerah pada keadaan. Berkat kerja kerasnya itu akhirnya pada tahun 1982 sampai dengan 1990, Rusli Zainal menjadi Pimpinan Cabang PT Mohairson Pekanbaru yang berkantor pusat di Jakarta. Di tahun 1990, ia kemudian menjadi Direktur Utama PT Kemuning Muda Pekanbaru. Pak Rusli memang termasuk orang ulet dan tekun bekerja, sehingga tak heran kalau sekarang kariernya melonjak. Kariernya di dunia politik juga tak kalah cemerlang. Hal ini dapat dibuktikan di tahun 1997, Rusli Zainal pernah menjadi Anggota DPRD TK I Riau.
Selama menjadi Gubernur Riau berbagai pembangunan telah ditorehkan pada masanya, baik berbagai fasilitas olah raga, jalan, jembatan dan yang tidak kalah pentingnya adalah Gedung Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau. Perpustakaan Soeman HS, yang terletak di Kota Pekanbaru, Riau adalah perpustakaan provinsi yang diresmikan pada tahun 2008 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Awalnya, perpustakaan ini merupakan perpustakaan provinsi yang berlokasi di Gobah, kecamatan Sail, namun kemudian dipindahkan ke pusat kota karena lokasi sebelumnya dianggap kurang strategis. Gedung baru yang megah ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan fasilitas perpustakaan yang representative dan menjadi pusat kegiatan literasi budaya Melayu.
Berawal dari perpustakaan yang saat itu bernama Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau, berada jauh dari akses masyarakat baik letak geogrfis yang berada di pinggiran kota ataupun karena susahnya akses tarnsportasi umum saat itu menuju ke lokasi perpustakaan. Selain dari itu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Provinsi Riau sangat perlu didukung dengan sarana berupa infrastruktur gedung perpustakaan yang memadai, terjangkau semua lapisan masyarakat, begitu juga dengan fasilitas yang ada dan memadai sangat perlu sangat diperlukan.
Dari situlah pemerintah provinsi saat itu melakukan terobosan dengan memindahkan lokasi Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau yang saat itu berada di daerah Gobah-Sail ke lokasi baru di jalan Sudirman yang merupakan lokasi sangat strategis dan berada di Pusat Kota Pekanbaru. Gedung (eks. DPRD Provinsi Riau) sangat menguntungkan karena keberadaannya di pusat kota dan dapat dengan mudah diakses dan dijangkau oleh masyarakat dari segala arah. Namun, dari aspek fasilitas layanan belum memadai karena lokasi baru merupakan eks gedung anggota dewan bukan diperuntukan khusus untuk perpustakaan.
Menjawab tantangan tersebut untuk meningkatkan sumber daya manusia di provinsi Riau maka Gubernur Riau saat itu Bapak Rusli Zainal menginisiasi pembangunan gedung baru perpustakaan yang sekarang di kenal dengan Perpustakaan Soaman HS. Pembangunan gedung baru sangat mendesak saat itu, selain sesuai dengan visi dan misi Gubernur untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui perpustakaan, juga ke depan perpustakaan ini akan menjadi rujukan khususnya sebagai center of exccelent budaya Melayu dan budaya lokal lainnya di wilayah Sumatera dan sekitarnya. Diresmikan oleh Wakil Presiden saat itu yaitu Yusuf Kalla tahun 2008. Nama Perpustakaan diambil dari tokoh sastrawan Nasional Angkatan Pujangga Baru dari Riau yang begitu popular di masyarakat yaitu Soeman HS.
Perpustakaan Soeman HS
Konsep awal pembangunan gedung perpustakaan ini adalah penggabungan dari bangunan lama, dengan tidak merombak bangunan lama yang mempunyai nilai sejarah untuk masyarakat provinsi Riau yaitu merupakan cikal bakal symbol demokrasi di negeri ini. Penggabungan aula yang sekarang diberi nama Aula Ismail Suko dan Aula Wan Ghalib dengan membangun gedung baru 5 (lima) lantai ditengahnya dengan atap berbentuk rehal.

Gedung Eks. DPRD Provinsi Riau (Konsep Awal Perpustakaan Soeman Hs)
Pembangunan gedung perpustakaan yang baru tidak merombak bangunan yang memiliki nilai sejarah serta pemikiran yang dituangkan dalam pemahaman arsitek Islam dan budaya Melayu Modern dengan tidak mengabaikan ciri khasnya seperti: tradisi masyarakat Riau adalah masyarakat Melayu yang berakar dari ajaran-ajaran agama Islam; elemen tradisional sebagai aksentuasi bangunan; perkembangan arsitektur Melayu tradisional menuju arsitektur Melayu modern merupakan perubahan yang unik dan dinamis; modern bukan berarti meninggalkan bentuk-bentuk masa lampau ataupun melupakan bentuk-bentuk tradisi arsitektur melayu modern dalam hal ini adalah mereformasi bentuk lama menjadi bentuk yang lebih modern, baik dalam desain, pemilihan material bahan bangunan atau cara pelaksanaannya.
Disamping itu berusaha berusaha menerapkan nilai-nilai arsitektur melayu Islam dan modern dalam upaya menghasilkan desain yang representative yang memiliki karakter yang kuat dan kokoh serta memiliki nilai-nilai seni yang tinggi, agar bangunan tersebut dapat bertahan sepanjang masa dan lekat pada nilai-nilai budaya melayu agamis serta monumental dan abadi. Dalam setiap tahapan design selalu berusaha menggali dan menerapkan elemen-elemen melayu dan Islam untuk kemudian dituangkan dan diterjemahkan dalam pemakaian material bahan bangunan yang modern untuk menghadirkan desain yang kokoh, monumental, dan abadi. Keinginan untuk terus mempertahankan budaya Melayu dilandasi dengan kesadaran bahwa budaya dan Bahasa Melayu merupakan akar dari budaya dan Bahasa Indonesia sebagai warisan leluhur yang tak ternilai harganya.
Konsep Filosofis
Pembangunan gedung Perpustakaan Soeman HS dilandasi dengan konsep Arsitektur yang mendukung Visi Provinsi Riau saat itu (2020), yaitu: “Terwujudnya Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir batin di kawasan Asia Tenggara Tahun 2020”, hal ini tercermin pada konsep dasar atap gedung Rehal Al Quran, sebagai tempat untuk manyanjung kebesaran Sang Pencipta Allah subhanahu wa ta’ala, melalui perintahNya yaitu Iqro atau bacalah.
“Secara konsep, Gedung Perpustakaan Soeman HS, merupakan symbol atau metafora dari bentuk rehal Al Quran yang diimplementasikan dalam bentuk bagian atap bangunan, untuk mengintegrasikan bangunan-bangunan yang terletak dibawahnya menjadi satu kesatuan yang utuh”. Bentuk Rehal merupakan filosofi dari ajaran Islam yang selalu manyanjung kebesaran Allah SWT yang melalui firman-Nya menganjurkan kepada seluruh umat-Nya untuk senantiasa belajar dengan cara membaca “IQRO” (Surat Al-Falaq 1-4).
Bangunan baru Gedung Perpustakaan Soeman HS 6 lantai ini dilapis dengan material kaca untuk memberikan kesan transparan/tembus pandang sehingga menarik perhatian setiap orang yang melewati bangunan ini. Pencahayaan alami dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk penerangan secara keseluruhan yang didukung dengan pemakaian material kaca disekeliling bangunan (curtain wall). Panas yang diakibatkan oleh sinar matahari langsung dikurangi dengan overstek atap yang cukup lebar, sehingga radiasi cahaya matahari langsung dapat dikurangi seminimal mungkin.
Konsep atap ini digunakan untuk menyatukan 3 elemen gedung bangunan lama menjadi satu kesatuan dan saling terhubung satu sama lain yaitu:
- Bangunan Administrasi, ruang Kepala, aula Ismail Suko;
- Bangunan perpustakaan baru 6 (enam) lantai;
- Bangunan aula Wan Ghalib.
Ketiga unsur bangunan tersebut terpanyungi menjadi satu kesatuan dengan atap yang membumbung terbuka ke atas, seperti pada gambar berikut:
Bentuk kolom/tiang yang bercabang pada ujung atas bangunan sebagai simbol/metafora bentuk atap selembayung yang merupakan ornamen/elemen utama bangunan arsitektur melayu. Selembayung mempunyai bentuk seperti dua tangan menengadah yang melambangkan eratnya hubungan antara makhluk hidup dengan sang pencipta (Al – Khaliq).
Selembayung tajuk bertuah
Tegak diujung perabung Melayu
Menjunjung martabat bersama marwah.
Adat tegak Lembaga tak layu
Selembayung tangga dewata
Tempat turun pelangi budi
Tegak selembayung berdiri tuah
Disitu daulat Melayu sejati
Sedang, tiang-tiang utama yang secara struktural berfungsi sebagai penopang atap, mengambil konsep arsitektur dari rumah adat Melayu.
Pejelasan Konsep
REHAL AL QURAN. Adalah filosofis dari ajaran Islam yang pada dasarnya menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa belajar dengan cara membaca, seperti dalam sejarah turunnya ayat suci Al Qur’an untuk pertama kalinya, surat Al-Falaq ayat 1 – 4. Yang nantinya dimanifestasikan kedalam bentuk atap gedung yang menaungi baik bangunan baru maupun bangunan Existing yang dipertahankan (Gedung Administrasi dan Bidang Layanan).
Rehal Al Qur’an menjawab landasan konseptual dari perencanaan desain pembangunan Gedung Perpustakaan dan Arsip Provinsi Riau, yang mengisyaratkan gaya Arsitektur Islami sebagai salah satu prioritas. Kolom-kolom yang bercabang pada ujung atasnya adalah bentuk metafora yang diadopsi dari atap selembayung, Arsitektur Khas Tanah Melayu, yang mempunyai ekspresi keatas (menengadah), hubungan antara mahluk dengan Al-Khaliq (Sang Pencipta)
Penggunaan Material Kaca dalam sistem curtain wall pada sebagian besar permukaan bangunan (material non-konvensional, dan Open Space pada lantai dasar, memperoleh image seolah-olah bangunan terangkat dari permukaan (mengambang), memenuhi kriteria sebagai Bangunan Arsitektur Modern.
Penggunaan fasade kaca yang semi trasfaran, mengundang minat masyarakat untuk melihat aktifitas didalam gedung, sehingga menimbulkan dampak kegemaran membaca yang kelak dikemudian hari akan meningkatkan mutu SDM dari masyarakat Provinsi Riau. Sehingga tujuan dari didirikannya Gedung Perpustakaan ini, sebagai pusat Informasi Ilmu Pengetahuan dan Budaya Melayu dapat terlaksana.
Perpaduan bangunan dengan atap metafora dari Rehal Al Qur’an (Islami), Modern dan Kontekstual terhadap Arsitektur Lokal (Melayu) akan menjadi salah satu Landmark Kawasan tetapi tidak mengalahkan Landmark kawasan utama yaitu Kantor Gubernur Riau. Bangunan Gedung Perpustakaan dan Arsip yang baru ini akan mendukung keberadaan bangunan utama yang telah ada sebelumnya.
Konsep Ornamen Tradisional
Sebagai bangunan Modern yang tidak meninggalkan ciri-ciri budaya melayu dimana Perpustakaan ini akan menjadi pustaka rujukan bagi budaya Melayu, yang merupakan akar budaya dan Bahasa Indonesia yang mempunyai nilai-nilai yang tinggi, maka bangunan Perpustakaan Provinsi Riau syarat akan nilai-nilai sejarah, pendidikan, seni dan budaya. Sebagai bangunan yang mempunyai nilai yang tinggi maka bangunan Gedung Peprustakaan Soeman HS Provinsi Riau dapat dikelompokkan dalam kategori bangunan yang bersifat “Monumental”. Sebagai bangunan yang monumental dan menjadi kebangggaan Masyarakat Riau maka dalam perencanaan Pembangunan Gedung terdapat unsur-unsur sejarah, agama, pendidikan, budaya dan seni yang digambarkan dalam bentuk RELIEF.
Ornamen-ornamen yang mengandung nilai-nilai sejarah, pendidikan, seni dan budaya tersebut ditempatkan pada dinding Gedung Existing Administrasi dan dinding Gedung Existing Referensi. Seperti berikut:
Relief Konsep Rehal Al Quran
Pada Relief bagian belakang ini terdapat tunjuk ajar antara lain:
Dengan bismillah permulaan kalam
Puji dan syukur kekhalikul alam
Syair terurai kata diandam
Adat-Lembaga sulam menyulam
Kehadirat Allah puja dan puji
Setinggi Riau ungkup pewangi
Harum semerbak resam azali
Adat-istiadat zaman bahari
Liput menyeluruh Siak-Indragiri
Rokan Kuantan bertaut umbi
Adat dan Syarak bersanding kaji
Pinang sebatang tuah negeri
Kisah berawal mulanya lembaga
Bersusun tampuk Melayu raya
Negeri berteras Si-Riau Lingga
Ke muara Kampar bergetar tahta
Wadah pujangga Riau nan ria
Zikir dan didin beriring rebana
Celempong mengalun dimana-mana
Riau nan riuh gegap gempita
Riwayatnya negeri Indrasakti
Tempat bermukim Raja Ali Haji
Buku terkarang Gurindam dinukil
Semarak Riau Melayu abadi
Turus adat sambung lembaga
Melebah luas ranak samudera
Ukuran negeri Selatan-Utara
Ranah Kuantan hingga Natuna
Betapa nian rayanya suku
Timur dan Barat harkat bersatu
Jazirah memanjang dari Kuntu
Hingga ke Siak bersusun mutu
Keris Sempena Berkelok Lima Layak
dipakai derjah Laksamana
Kebesaran Riau adat ditempa Budi Melayu
elok sempurna
Patah tumbuh hilang berganti Kuncup
berkembang payung negeri
Kain songket corak beragi Baju kebaya
Pakaian putri
Tanggul bunda si lipat pandan
Masih dipakai dinegeri Tambean
Sangat termasyur ditanah Bunguran
Pakaian bersempat orang Sianan
Moleh memecah tampuk selayang
Di Pasir pangaraian berantai pinang
Ukiran putri dipinang orang
Adat nan elok bertanah jenjang
Bono berderum dimuara Rokan
Senandung nelayan di tanah Bagan
Nyanyi petani Kuok dan Pangkalan
Bermayanglah Nyiur di Tembilahan
Diriwayatkan pula Pulau Bengkalis
Terubuk berulang dagingya manis
Amar termasyur sebilang majelis
Lembaga Adat berunjuk keris
Tenun Siak dipuncak rebung
Gadis berjalan memakai kerudung
Pending di pinggang sambung-menyambung
Dukuh di leher sangkung-bermenyangkung
Nak dara Daik jari berinai
Duduk menyulam di kain cindai
Selendang pelangi selalu dipakai
Bertapih kembang semuanya pandai
Di Hulu Bintan Kota Piring
Asal Riau Negeri Beranting
Adat Lembaga tumbuh seiring
Raja nan Baroh berpegang lembing
Surat dari Sahabat
Oleh: HM Rusli Zainal, SE MP
TAK terasa, sudah lebih 3 bulan lamanya. Dari merdeka mendadak berada di balik tempat bernama penjara. Inilah sesungguhnya perang ‘Badar’ bagiku. Di mana ada sakit yang begitu dahsyat dan ada pemberontakan batin yang begitu kuat menuntut sedikit atas nama menegakkan perubahan.
Tapi aku sadar belum waktuku. Ada fase yang harus aku lalui yaitu ujian, perjuangan dan pengorbanan. Aku anggap ini sebagai ladang amal dengan bentuk yang berbeda.
Alhamdulillah selalu ada hikmah yang luar biasa dibalik musibah. Pada masa-masa seperti ini aku semakin bersyukur menjadi hamba yang tidak kehilangan cinta Allah SWT dan juga cinta orang-orang terdekat. Meski ditengah keterbatassan, aku tetap merasakan kedamaian hati yang luar biasa.
Keluarga, sahabat, kerabat, rekan sejawat bahkan rakyat yang sebelumnya mungkin tidak pernah berjumpa di tengah padatnya melaksanakan tanggungjawab, justru rela mengunjungiku kini walau hanya bisa bertemu sasaat saja.
Aku diberikan senyum, dukungan, kata penyemangat bahkan ada yang cuma datang mengantarkan tangis keharuan melihat kondisiku. Lagi-lagi aku hanya bisa ucapkan Alhamdulillah, semua cinta yang tulus ikhlas itu telah menjadikan hatiku setegar karang melalui semua cobaan ini.
Dalam keterbatasan gerak, justru kini jadi punya banyak waktu untuk menyelesaikan bacaan Al-Quran, sholat malam, memperbanyak instropeksi diri dan punya waktu mengungkapkan isi hati melalui tulisan.
Aku bisa meluangkan waktu untuk membaca, bercerita bukan soal setumpuk kerja atau sekadar istirahat cukup sepanjang hari. Setelah hampir 15 tahun mengurus pemerintahan, barulah tersadar betapa langkanya bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini. Karena biasanya harus bekerja dan bekerja dari pagi lalu ketemu pagi lagi.
Di antara banyak buku dan kiriman yang datang padaku, ada sebuah surat dari sahabatku di Jakarta. Isi suratnya begitu sederhana, namun bagiku menjadi penyemangat luar biasa. Rangkaian pesannya mampu membawaku pada tingkat kesadaran dan tafakur diri sebagai seorang hamba Tuhan.
Aku ingin menulis ulang surat sahabatku itu. Dalam suratnya, sahabatku itu menuliskan begini:
Kini ada batasan untuk sekedar berdiskusi atau sekedar mendengar uraianmu tentang mimpi-mimpi besar membangun tanah kelahiranmu di sana. Meski pada setiap orang yang mengunjungi selalu ada senyum dan ketegaran yang coba kamu perlihatkan, aku tahu di sana ada keresahan, gundah, gelisah, dan air mata yang coba kamu sembunyikan.
Ketegaranmu telah menjadi inspirasi, menjadi kekuatan dan keyakinan, bahwa akan ada suatu hari nanti yang jauh lebih indah dari hari ini.
Mengabarkan sejuta kata dan Bahasa tentang hatimu pada tanah lahir kita itu, mungkin tak akan cukup membuka mata hati mereka. Tapi percayalah, suatu ketika kelak, namamu akan dikenang menjadi bayang kebangkitan yang tak akan lekang berganti zaman.
Cerita kebaikan hati itu akan terus mengalir menjadi pikir dan dzikir.
Selalulah ingat kisah para ash-habul ukhdud, yang memberikan pelajaran penting tentang makna sebuah pengorbanan untuk meraih sebuah kemenangan.
Mereka terbuang dari kaumnya namun dengan keimanan yang mereka punya dan atas restu Tuhan, diangkat kembali derajat mereka jauh lebih tinggi dari semula.
Ingatlah pada proklamator kita Presiden Soekarno. Dari balik tembok penjara, Soekarno menulis sebuah pledoi (Pidato pembelaan) yang diberi nama ‘Indonesia Menggugat’. Pledoi ini kemudian dibacakan di Gedung Landraad (pengadilan rendah) pemerintah kolonial Belanda di Bandung.
Pengalaman sebagai orator ulung membuat Soekarno mampu mengubah sidang yang semula diniatkan pemerintah Belanda untuk menjatuhkan Soekarno menjadi seperti rapat umum di mana Soekarno seolah menjadi bintangnya.
Jika bukan karena dipenjara, Buya Hamka mungkin tidak akan pernah bisa mengguncang dunia dengan Tafsir Al-Azhar yang ditulisnya. Tafsir ini kemudian mengaitkan sosoknya dengan tokoh besar dunia sekelas Sayyid Quthb. Tafsir itu lahir di penjara.
Bahkan, Buya Hamka pernah berterima kasih secara khusus kepada pemerintah yang telah memenjarakannya.
Hal yang sama pula dialami oleh Tan Malaka. Tokoh besar dalam sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia ini, juga melahirkan ide-ide besar perubahan di negeri kita ini, dari tulisan-tulisan yang dibuatnya dari balik jeruji besi.
Lalu sahabatku, kamu pasti tahu dengan Nelson Mandela. Tokoh kulit hitam ini menjadi sosok paling populer di antara banyaknya tokoh politik dan negarawan dunia yang pernah menjadi narapidana. Nelson Mandela merupakan tokoh aktivis anti-apartheid, pemisahan hak antara orang kulit putih dan pribumi, di Afrika Selatan.
Aktivitas politik dan idealismenya sebagai putra Afrika Selatan mengantarnya untuk mendekam di dalam jeruji besi pada 1964. Selama masa penahannya Nelson mengalami berbagai hukuman mulai dari budak pekerja dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia luar.
Setelah menjalani masa tahanan selama 27 tahun dan namanya semakin popular di saat dia menjalani masa tahanan.
Mandela kemudian dibebaskan pada 1990 dan berhasil menghapuskan politik apartheid di Afrika Selatan melalui sebuah negosiasi. Dia kemudian terpilih menjadi presiden Afrika Selatan periode 1994-1999, dan meninggalkan idealisme militansinya.
Dia banyak melakukan upaya rekonsiliasi dan membuat undang-undang serta peraturan untuk mencegah kemiskinan dan ketidakadilan di negerinya. Hingga hari ini, di sisa akhir hidupnya, dunia tetap memuja.
Dan sahabatku, aku yakin kamu pasti akan jauh lebih hebat dari seorang Nawal El Saadawi, seorang perempuan Mesir, yang menulis ‘Memoar dari Perempuan Penjara’ dan tulisan-tulisannya mengubah pandangan dunia tentang wanita.
Ia dipenjara sejak tahun 1981 oleh rezim Anwar Sadat. Bayangkan, ia menulis dengan kertas toilet dan pensil alis. Buku karyanya, Live from Death Row dan All things Censored, pernah disetarakan dengan Letter from Birmingham Jail karya Marthin Luher king Jr. Keduanya lahir dari penjara.
Sahabatku…
Sungguh di sini bukan tempatmu. Tapi percayalah, Tuhan pemilik segala rencana. Tuhan pula sutradara terbaik di seluruh jagad semesta. Aku mengajakmu berprasangka baik pada sang Khalik. Ia sedang menatapmu, menguji hatimu, karena Tuhan yakin kamu mampu untuk itu.
Meski kini rumah kediamanmu sebagai pemimpin tak bisa lagi menerima tamu, percayalan bahwa tamu-tamu itu akan selalu datang di manapun kamu berada. Mereka akan mengunjungimu dengan penuh kerinduan, kekaguman dan rasa cinta yang besar pada sosokmu.
Mereka akan meluruhkan dukamu, maka tersenyumlah selalu dan jangan menyerah kalah. Ini hanya hukum manusia, yang akan memisahkan cinta rakyatmu dengan dirimu, meski harus terhalang ribuan mil jaraknya.
Jadi sahabatku, selalulah percaya bahwa ribuan doa sedang menderu mengarah padamu. Insya Allah suatu ketika kelak, kamu akan kembali pada kami, pada negeri yang telah kau bangkitkan meski bermula dari banyak mimpi-mimpi. Tetaplah menjadi pribadi yang tegar.
Surat ini berkali-kali kubaca, berkali-kali pula menghadirkan kekuatan luar biasa. Pada sahabatku itu, perlu disampaikan bahwa aku bukanlah sosok sehabat Tan Malaka, Presiden Soekarno, Buya Hamka, Nelson Mandela ataupun Nawal El Saadawi.
Aku hanya seorang Rusli Zainal. Anak kampung yang punya mimpi menghadirkan perubahan besar di tanah kelahirannya. Sebagian mimpi itu sudah ada yang terwujud, meski sebagian lain masih terpendam.
Semoga kelak, lahir pemimpin-pemimpin hebat di tanah Melayu-Riau, melanjutkan perjuangan dan melanjutkan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat. Semoga. ***
Tulisan ini dibuat sebagai apresiasi kami sebagai pustakawan, atas kebijakan Bapak Rusli Zainal sebagai Gubernur Riau saat itu yang telah mengangkat marwah perpustakaan dari daerah pinggiran ke pusat kota seperti yang kita rasakan saat ini. Falsafah Jawa “Mikul Dhuwur Mendhem Jero” sangat cocok diberikan kepada Bapak Rusli Zainal. Semoga apa yang telah Bapak lakukan menjadi amal kebaikan dan bermanfaat bagi masyarakat. Aamiin.
Kun Wardoyo
Pustakawan Perpustakaan Soeman HS

















