Semarak dunia literasi kembali menyelimuti Pekanbaru melalui Festival Literasi Riau 2025
Pekanbaru- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau kembali menggelar Festival literasi pada Rabu (1/10/2025) di Perpustakaan Soeman HS, Pekanbaru.
Semarak dunia literasi yang saat ini menyelimuti Pekanbaru, menjadi tempat puluhan orang berkumpul, dari penulis, pelajar, komunitas literasi, penerbit lokal, hingga pecinta buku datang untuk satu tujuan: merayakan Festival Literasi Riau 2025.
Kegiatan ini dibuka oleh Gubernur yang diwakili oleh Kadispersip Riau Indra, dalam sambutannya mengatakan Literasi adalah kunci membangun peradaban. Kami ingin kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang cerdas dan berdaya saing.
Indra menegaskan, pemerintah provinsi Riau berkomitmen mendukung pengembangan literasi di daerah. Menurutnya, literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, melainkan budaya hidup yang harus dibiasakan di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Di balik kemeriahan festival, ada harapan besar agar perpustakaan benar-benar menjadi pusat kegiatan masyarakat. Indra menyampaikan, keberadaan perpustakaan memiliki dasar hukum yang kuat. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, ditambah dengan regulasi pemerintah daerah, menegaskan bahwa perpustakaan adalah urusan wajib yang harus diselenggarakan setiap daerah.
Indra berharap perpustakaan bisa menjadi destinasi rekreasi alternatif sebagaimana menjadi salah satu fungsi perpustakaan yaitu wisata literasi. Karena untuk saat ini cenderung banyak anak-anak mengisi akhir pekan mereka dengan meminta orang tua mengajak mereka ke pusat perbelanjaan. Coba bayangkan kalau mereka meminta ke perpustakaan, tentu akan lebih bermanfaat.
Untuk itu, Dinas Perpustakaan berencana menambah fasilitas yang membuat masyarakat betah. Salah satunya membuka kafe atau kantin di lingkungan perpustakaan. “Anaknya membaca, orang tua bisa duduk di kafe atau berolahraga di sekitar kantor. Jadi semua bisa menikmati,” ujarnya.
“Kalau perpustakaan nyaman, anak-anak akan betah. Kami ingin menciptakan suasana di mana membaca bukan lagi beban, tapi bagian dari rekreasi,” tuturnya.
Gagasannya sederhana tapi relevan: menyediakan fasilitas ramah keluarga, mulai dari ruang baca anak, area diskusi santai, hingga kafe kecil. Dengan begitu, perpustakaan bisa menjadi tempat anak-anak menambah pengetahuan, sementara orang tua punya ruang untuk bersosialisasi
Festival Literasi Riau tahun ini menghadirkan beragam kegiatan. Selain pameran dan bazar buku, ada bedah buku, seminar literasi, diskusi publik, hingga lomba-lomba kreatif yang dirancang menjangkau seluruh kalangan: anak-anak, remaja, mahasiswa, bahkan penyandang disabilitas. Di momen ini juga Dipersip Riau resmi melaunching inovasi peminjaman buku secara online.
Dea Gita selaku ketua panitia menyebut kegiatan ini lahir dari kerja sama banyak pihak. Kami berterima kasih kepada perusahaan, komunitas, penerbit, dan pegiat literasi yang mendukung acara ini. Semoga lewat festival ini budaya literasi di Riau semakin maju.
“Literasi harus menjadi budaya hidup,” sambung Dea Gita, sang ketua pelaksana.
Bunda Literasi Provinsi Riau, Henny Sasmita Wahid, dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa literasi adalah pondasi penting pembentukan karakter bangsa. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
Lebih lanjut, Henny menjelaskan Kalau generasi muda dekat dengan literasi, mereka lebih siap menghadapi tantangan zaman. Membaca bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka cakrawala berpikir dan menumbuhkan empati.
Henny juga mengingatkan agar literasi berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi digital. Anak-anak, menurutnya, perlu dibiasakan bukan hanya mahir menggunakan gawai, tetapi juga bijak memanfaatkannya untuk memperkaya wawasan.
Sekretaris Dipersip Riau, Budi Fakhri, menambahkan, penguatan layanan literasi tak hanya terbatas pada koleksi buku. Pihaknya juga fokus pada digitalisasi, pelestarian arsip, dan kolaborasi dengan dunia pendidikan, komunitas, hingga sektor swasta.
“Arsip adalah memori kolektif bangsa yang harus dijaga. Di sisi lain, kami ingin literasi berkontribusi pada pergerakan ekonomi masyarakat,” katanya. Menurutnya, festival seperti ini menjadi wadah mempertemukan literasi dengan UMKM lokal, penerbit, dan penulis.
Budi menegaskan, tujuan utama festival bukan sekadar meramaikan agenda tahunan, tetapi membumikan literasi sebagai budaya. “Mari jadikan literasi sebagai gaya hidup, bukan hanya kewajiban akademik,” ujarnya.
Di penghujung acara, semangat yang sama terasa. Penampilan seni literasi dari pelajar sekolah menutup festival hari pertama. Tepuk tangan hadirin menandai bahwa literasi memang bisa dirayakan dengan cara yang meriah sekaligus bermakna.
Harapan pun bergulir. Dari pejabat pemerintah, pegiat literasi, hingga orang tua yang hadir, semua sepakat bahwa literasi bukan hanya urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
Festival Literasi Riau 2025 menjadi pengingat bahwa di tengah gempuran digital dan kesibukan masyarakat, buku masih punya tempat istimewa. Di tangan generasi muda yang akrab dengan literasi, masa depan Riau dan Indonesia akan lebih terbuka.












